Mengambil hikmah dari kisah nyata korupsi

termenungKorupsi … ?, tentu hampir semua dari kita tidak menyetujui bahkan melawannya. Namun pernahkah kita coba melihat ke dalam, berkaca dengan perilaku, tindakan, budaya, kebiasaan dan keseharian kita?, adakah yang secara langsung ataupun tidak langsung merugikan diri, keluarga, orang lain bahkan negara?, dalam postingan Blog kali ini, kami akan share sebuah kisah nyata dari postingan note sahabat dan guru kami, Imam Puji Hartono, di FB. beliau menyampaikan ulang dari salah seorang sahabat (Jamil Azzaini) yang mendengar dan melihat secara langsung dari saudara kita yang diberikan hidayah oleh Alloh untuk kembali ke jalan yang benar, sebagai Ibrah/renungan dan hikmah bagi kita semua. Berikut kisahnya.

Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang “hukum kekekalan energi”, yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan “energi positif” atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula.

Begitu pula bila kita melakukan “energi negatif” atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas “hukum kekekalan energi”. Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin.

Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing.

Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. “Pak Jamil, saya ingin bertemu anda,” ujarnya singkat. Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu. Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat.

Cukup lama beliau memeluk saya. “Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,” ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja. Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. “Saya sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,” ujarnya.

“Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?” tanya saya. “Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya Rp. 526.000.000;- (lima ratus dua puluh enam juta rupiah),” katanya.

Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya.

“Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah,pak.” Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.

“Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?” Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, “Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak!”

Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, “Uang korupsi itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!”

Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah. Tangisnya semakin keras….

Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi?

By:Jamil Azzaini
===================

Semoga bisa diambil hikmahnya, dan kita semua memperoleh petunjuk serta Rdlo dari Yang Maha Esa agar dapat terhindar dan melepaskan diri dari jeratan korupsi yang pasti akan dipertanggungjawabkan di hari Akhir nanti, Wallohu a’lamu bisshowab.

Yogyakarta-PP. Pandanaran, 14 Nopember 2009
Didokumentasikan oleh : Caksyam

Ditulis dalam Kisah. Tag: , , . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Mengambil hikmah dari kisah nyata korupsi”

  1. Gambar Kartun tentang Korupsi dan Kita « Blognya Cak Syam Says:

    […] Mengambil hikmah dari kisah nyata korupsi […]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: