Nggak sekedar “zero sugar”

Kamis (06/03). “Zero Sugar” sebuah jenis diferensiasi dan slogan produk minuman dengan tawaran tanpa kandungan gula, bukannya tidak terasa manis, tapi rasa tetep paling utama [lho kok malah iklan…hehehehe…]. Dalam sudut pandang lain kita bisa artikan “zero sugar” dengan tidak dapat lagi merasakan manisnya gula atau bahkan merupakan kondisi yang sama sekali harus bersih dari kandungan glukosa/gula, inilah yg akan sedikit menyita perhatian pada catatan kali ini. check this out….
Secara “sunnatullah/alamiah” manusia diberi karunia untuk merasakan manis, rasa ini adalah nikmat yang luar biasa. berapa banyak di antara kita yang harus menghindari kandungan glukosa untuk mengontrol apa yang dinamakan dengan “kadar gula” ( ZERO SUGAR MODE = ON ).

Lebih dari itu, manusia secara alamiah juga memiliki siklus naik dan turunnya kemampuan fisik. Dimulai dengan kondisi sangat lemah (ketika dilahirkan), menuju kondisi yang terus berkembang serta mencapai ke titik puncak (dewasa) hingga kembali ke posisi lemah dengan konteks yang berbeda (tua). Terkait dengan hal ini, dalam sebuah pertemuan rutin santri pondok pesantren UII malam jum’at (06/03) (kebetulan mampir), ada satu rangkaian kata yang menjadi titik perenunganku, sebuah kutipan dari surah yasin [36:68] yang berbunyi “wa man nu’ammirhu nunaqqishhu fil khalqi, afalaa ya’qiluun” yang artinya “dan barang siapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya, apakah mereka tidak menelaahnya?”.

Alquran diwahyukan dengan “keindahan kata dan makna” yang demikian bukan tanpa makna, lebih dari itu. Di sini manusia [terutama yang mempelajari dan mau membaca kandungan alquran] akan menemukan betapa Singkatnya masa di dunia, dan betapa berharganya waktu yang tersisa sebelum datang masa “hilang indah , hilang nada, hilang nostalgia, hilang rasa” atau dengan kata lain ketika penglihatan mulai berkurang, pendengaran mulai berkurang, ingatan mulai berkurang dan kemampuan indera mulai berkurang.

Apa yang bisa diambil dari pesan dalam Al-Quran tersebut, tentunya adalah anjuran dan himbauan bagi segenap manusia untuk memaksimalkan “karunia” umurnya guna berbuat sebaik-baiknya, memaksimalkan potensi yang ada, senantiasa berpikir kedepan, bukan hanya untuk masa tua tetapi juga untuk masa di alam barzah. semoga kita senantiasa bisa mengambil hikmah, berbagi dengan sesama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. secara sederhana Nabi s.a.w memberikan konsep singkatnya, manusia paripurna adalah manusia yang bertaqwa kemudian beristiqomah [menjaga ritme] dengan ketaqwaannya. Selanjutnya, para ulama juga pernah berpesan “alwaqtu kassaifi fain lam taqta’hu qotho’aka” yang diartikan dengan “waktu bagaikan pedang, jika engkau tidak berusaha memotongnya, maka ia akan memotongmu”.

Smoga Qta smua bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum masa yang “Gak sekedar Zero Sugar” datang. Tetap Ibadah, Tetap Istiqomah, Tetap Belajar, Tetap mengajar, Tetap mencari, Tetap Berbagi. smoga bermanfaat. wallahu a’lamu bisshowab.

samsul hidayat-ygoyakarta 06 maret 09: 08.07 wib.

Ditulis dalam Umum. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: