Apa kata Tokoh Dunia tentang Nabi Muhammad SAW

Muhammad SAWSahabat, berikut adalah sebuah informasi yang dikompilasi oleh sahabat kami, Imam Puji Hartono (IPH) – terimakasih pak IPH-, mengenai apa saja komentar tokoh dunia tentang Nabi Muhammad SAW. Sungguh Pribadi Muhammad adalah pribadi yang luar biasa yang pernah ada di dunia, boleh dibilang ia adalah anugerah terindah semesta yang pernah diberikan oleh Sang Pencipta, Alloh subhanalloh ta’ala. Berikut apa kata Tokoh dunia tentang Nabi Muhammad SAW. Selamat Membaca, semoga bermanfaat.

1. MAHATMA GANDHI (Mohandas Karamcham Gandhi), Bapak India, Tokoh Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India.

“…. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.” [Young India (majalah), 1928, Volume X] “Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung. (KomentarMahatma Gandhi mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA).

Baca entri selengkapnya »

RAHASIA DI BALIK JARI TELUNJUK

Seringkali kita menunjuk sesuatu dengan berbagai sebab dan alasan. Di sana ada beberapa hal menarik yg bisa diambil pelajaran. Menunjuk sesuatu bisa berarti memilih, menginformasikan sesuatu, mengarahkan bahkan menyalahkan. Kali ini yg menjadi perhatian kami adalah tentang jari telunjuk yg menunjuk pada sebuah kesalahan/menyalahkan apa yg ada di sekitar kita. Mari kita perhatikan posisi tangan kita ketika menunjuk sesuatu, yach … di sana kita dapatkan satu jari (jari telunjuk) mengarah kepada objek tertentu dan ketiga jari lainnya (kelingking, manis dan tengah) cenderung mengarah kepada diri kita sendiri (berlawanan arah), sedangkan jempol dalam posisi “netral”, tidak menunjuk diri kita ataupun apa yg ditunjuk oleh jari telunjuk kita.

Apa maknanya?
Menyambung penjelasan yg disampaikan oleh Kyai kami (KH. Imadudin Sukamto-Pengasuh PP.Pandanaran Komplek IV), posisi jari2 tangan kita tersebut seakan mengingatkan kita, bahwa sebesar apapun kesalahan orang lain (yg kita tunjuk/tahu), pun kita juga musthi evaluasi diri .., dgn simbol tiga jari lainnya yg justru mengarah pada diri kita. Mungkin teman kita hari ini melakukan kesalahan, namun boleh jadi … beberapa saat kemudian, besok ataupun suatu saat nanti, justru kitalah yg melakukan kesalahan. Di sisi lain, jempol sebagai simbol kebaikan dan kesempurnaan, posisinya pun tidak menunjuk pada objek maupun subjek kesalahan-tidak memuji salah satu di antaranya, Di sinilah kita diingatkan oleh Ke-Maha Agungan Alloh SWT. yg mendesain jari2 kita sedemikian sempurnanya, agar kita senantiasa mengambil pelajaran dari setiap kesalahan, dan senantiasa berhati-hati dalam setiap tindakan, tidak cepat puas atas kebaikan yg dilakukan dan senantiasa berusaha tuk terus melakukan perbaikan.

Smoga Alloh senantiasa menolong kita untuk istiqomah dalam kebaikan dan kebenaran. Smoga bermanfaat. Wallohu a’lamu bisshowab.

Yogyakarta, 27 September 2010
Caksyam.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam  bersabda: “Penghulu Istighfar ialah kamu berkata: “Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani  wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).”  Barangsiapa yang membaca doa ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)

Pahala di balik Musibah

hmm, lama gak berbagi lewat tulisan.. ., rindu rasanya. Dalam kesempatan kali ini, akan kami bagi sedikit tentang pembahasan “musibah”. Musibah yang identik dengan kesedihan, penderitaan, kesakitan dan segala efek serta dampak negatif lainnya. Sungguh kami tercengang ketika membaca sebuah hadits berkenaan dengan “Pahala musibah” ini. Dalam sebuah buku/kitab “Syarah syeikh muhammad nawawi aljawi-Nashoihul ibad”, yang disusun oleh syihabuddin ahmad ibn hajar al-asqolani-[edisi revisi oleh alwi abu bakr alqof, terbitan Dar alkutb al-islamiyah]-hlmn 46, Rasululloh SAW bersabda :

Artinya : Pada hari kiamat nanti mizan(timbangan amal) akan ditegakkan, lalu: [1]. orang yang sholat akan dihadirkan untuk ditimbang amalnya, kemudian diberikan kepada mereka, pahala shalat secara sempurna,[2]. orang yang sedekah akan dihadirkan untuk ditimbang amalnya, kemudian diberikan kepada mereka, pahala sedekah secara sempurna, [3]. orang yang puasa(dalam redaksi yang berbeda disebutkan “orang yang berhaji”), akan dihadirkan untuk ditimbang amalnya, kemudian diberikan kepada mereka, pahala sedekah secara sempurna. [4]. orang yang tertimpa musibah, (berbeda dengan yang sebelumnya) mereka tidak ditimbang amalnya dan mereka tidak diperiksa, namun mereka akan diberikan pahala tanpa batas, sehingga mereka yang dulunya tidak pernah tertimpa musibah mengharapkan sekiranya mereka dahulu termasuk golongan mereka yang tertimpa musibah, dikarenakan banyaknya pahala dari Alloh Ta’ala yang diperoleh oleh mereka yang dulunya tertimpa musibah.

Subhanalloh. “laa tahzan, innalloha ma’ana”( Jangan bersedih, Karena sesungguhnya Alloh bersama kita), mungkin hanya inilah komentar yang bisa kami berikan. Di samping kita senantiasa berdo’a agar senantiasa dijauhkan dari musibah sebagai salah satu bentuk “taqorrub” [pendekatan diri] kepada Alloh, pun jua kita akan diberikan pahala tanpa batas, jikalau kita diuji dengannya (musibah). benar apa yang disampaikan oleh Rasululloh mengenai karakter seorang mukmin, yakni “sungguh menakjubkan”, mereka memiliki mental yang kuat, senantiasa bersyukur dalam nikmat dan bersabar dalam cobaan (musibah/ujian), sehingga tercermin dalam pribadi mereka seseorang yang tangguh dalam tiap keadaan dengan bersandar dan bertuju pada Alloh semata[tauhid secara kaffah].
Wallohu a’lamu bisshowab.

Yogyakarta, 4 september 2010/25 Ramadhan 1431 H
caksyam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.